Selamat hari raya Kabar Sukacita
Keponakan saya yang bernama Jojo, di usianya yang ke-empat dengan logat bicara yang masih cadel, sering mengatakan kalimat / frasa yang dia sendiri tidak tahu artinya, yaitu “ndak matuk akal” (tidak masuk akal). Mungkin karena ia sering mendengar ayahnya (alias kakak saya) mengatakan hal yang sama, maka ia gemar sekali mengucapkannya. Anak-anak memang suka meniru. Apapun pembicaraan yang kebetulan didengar oleh Jojo, akan ditanggapinya dengan kalimat favoritnya itu. Kadang ia akan mengatakannya dengan mimik serius, seolah dia mengerti apa yang sedang dia katakan. Namun kadang dia mengucapkannya sambil berlari ke halaman dengan senyum yang lebar menggoda, membuat saya menjadi gemas, ingin menangkapnya untuk mengacak-acak rambutnya yang halus dan mencubit pipinya yang membal seperti kue bapau. Saya sendiri tidak tahu mengapa kakak saya sering mengatakan kata-kata itu sehingga Jojo menirukannya atau mengapa kata-kata itu yang paling menarik untuk Jojo sehingga menjadi frasa favoritnya. Biasanya saya tidak mampu berbuat lain selain tertawa tergeli-geli sampai lupa sendiri pada apa yang hendak saya katakan.
Saya tidak sering berada di dekat keponakan saya tersayang itu karena saya selalu merantau. Jauh di dalam hati saya selalu merasa rindu kepada Jojo dan ingin terus mengikuti perkembangannya. Seringkali bila saya mengalami situasi yang menjengkelkan atau berhadapan dg orang yang sulit, secara iseng saya bilang saja dalam hati ‘ndak matuk akal ini” dg logat Jojo, untuk menghilangkan kekesalan dan menghibur diri sendiri. Sering kekesalan saya jadi berkurang membayangkan wajah Jojo mengatakan kalimat favoritnya itu. Hati saya menjadi lebih tenang dan kepala menjadi lebih dingin. Kalimat itu sendiri pada saat saya mengingatnya tidak ada artinya tetapi kepolosan dan keceriaan Jojo serta kerinduan saya kepadanya membuat kata-kata itu seperti obat mujarab untuk mengusir keresahan.
Pagi ini di gereja, kepolosan dan ketidak mengertian Jojo sekali lagi menghiasi hati saya saat mendengarkan bacaan Injil mengenai kabar sukacita yang dibawa oleh Malaikat Gabriel kepada Bunda Maria. Kabar itu berisikan pemberitahuan bahwa Bunda akan mengandung seorang Putera dari Roh Kudus. Bunda belum bersuami saat itu. Saya membayangkan betapa bingung dan tidak paham nya Bunda saat mencoba mencerna pemberitahuan ini dengan akal budinya. Betapa mungkin secara manusiawi, Bunda akan berkata kepada malaikat Gabriel bahwa semua yang dikatakan kepadanya itu ‘tidak masuk akal’.
Saya sesekali berdiskusi dengan saudara seiman mengenai Allah, mengenai Tuhan, mengenai Kitab Suci, mengenai rencana Tuhan bagi manusia, dan kata-kata ‘tidak masuk akal’ sering mendominasi perdebatan dan diskusi kami. Mungkin terlalu banyak mengandalkan logika dan pikiran manusia yang terbatas membuat diskusi kami seringkali mentok dan buntu. Saya yakin bila Bunda Maria hanya mengandalkan logika manusianya maka beliau hanya akan berkutat pada ‘tidak masuk akal” dan rencana agung penebusan tidak bisa dilanjutkan. Tetapi apakah akal itu ? darimana akal itu berasal ? Seperti Jojo yang tidak paham apa artinya ‘tidak masuk akal’, berkutat dengan akal tidak membawa kita kemana-mana, mungkin hanya jalan di tempat saja.
Tetapi saya merasa bahwa Bunda berani melangkah lebih jauh daripada sekedar berhenti pada akal. Bunda menyadari ada yang jauh lebih tinggi nilai dan fungsinya daripada akal. Bunda memutuskan untuk berjalan selangkah lebih jauh dengan kacamata iman. Dan saya merasa bahwa di atas segalanya, Bunda Maria yang tetap tidak mengerti, menyediakan diri untuk menjadi mitra Allah untuk bekerja sama dengan Sang Pencipta yang Bunda imani dan kasihi, untuk membuat dunia dan kehidupan menjadi tempat yang lebih baik bagi manusia dan semua mahluk ciptaan.
Selamat memperingati hari raya kabar sukacita 25 Maret, yaitu kabar malaikat Gabriel kepada Bunda Maria bahwa Allah menjadi manusia, untuk bersama-sama dengan kita dan menjadi sama seperti kita kecuali dalam hal dosa
San donato, 25 maret 2009
Add comment Mayo 19, 2009
caeciliauti
Hari Rabuku tanpa abu
Hari ini untuk pertama kalinya adalah Rabu Abu tanpa abu bagiku. Pagi-pagi aku dan suamiku bangun untuk bisa merayakan misa Rabu Abu di gereja Santa Barbara di dekat rumah. Seperti hari-hari yang lain, misa hari ini dihadiri tidak lebih dari duapuluhan umat. Setelah Homili dan bahkan Komuni selesai, semakin jelas bagi kami bahwa di gereja di Milan tempat kami bermukim ini tidak ada pembagian salib abu di hari Rabu Abu. Aku dan suamiku berpisah di halaman gereja karena ia harus ke kantor dan aku sendiri melangkah pelan kembali ke arah rumah kami.
Cuaca menjelang berakhirnya musim dingin menuju datangnya musim semi di hari-hari ini sangat cerah. Matahari tidak pernah lupa untuk mampir di langit yang biru menghamburkan cahayanya yang hangat dan ceria. Sambil menikmati pemandangan sekitar yang dipenuhi pepohonan yang belum mulai berdaun kembali, aku setengah melamun masih memikirkan absen-nya abu di perayaan misa yang baru saja kuhadiri. Walaupun tidak ada abu, hari-hari di Milan saat musim dingin yang hampir berlalu ini begitu akrab dengan warna abu-abu. Tidak hanya pepohonan yang tidak berdaun dan hanya menampilkan batang dan rantingnya yang berwarna kelabu, tetapi juga pakaian musim dingin orang-orang dimanapun aku berjumpa selalu bernuansa abu-abu atau hitam dan coklat tua. Belum lagi sering absen-nya matahari karena selalu tertutup awan tebal atau hujan salju yang renyai. Mungkin orang di sini sudah kenyang dengan warna abu di musim dingin sehingga tidak merasa perlu adanya abu di hari Rabu Abu, pikirku mencoba bercanda dengan diri sendiri.
Teringat saat pelajaran menggambar di sekolah dulu, aku bisa mendapatkan warna kelabu dengan mencampurkan warna putih dengan warna hitam. Semakin banyak warna hitam yang aku campurkan, semakin gelap warna kelabu yang dihasilkan. Pergulatan batin manusia juga selalu ditarik ke dua arah putih dan hitam, negatif dan positif, mudah dan sulit, sukacita dan dukacita, dingin dan ramah, optimis dan pesimis, rajin dan malas, pelit dan murah hati. Walau tentang baik dan buruk kadang tidak selalu bisa diambil batas yang jelas. Banyak hal berada di wilayah abu-abu. Mungkin karena kita tidak pernah sepenuhnya hitam atau sepenuhnya putih tetapi selalunya komposisi dari keduanya.
Dalam masa masa berpantang dan berpuasa ini warna abu mengingatkanku untuk mengatur keseimbangan komposisi hitam dan putih yang menjadi pilihan-pilihanku setiap hari. Warna-warna hitam kegelisahan, iri hati, kemalasan, kesombongan, kehilangan harapan, diimbangi dengan warna-warna putih cerah dari kemurahan hati, belaskasihan, solidaritas, harapan, kasih pengampunan dan pengorbanan. Pergulatanku setiap hari untuk memadukan dua warna yang berbeda ini akan menghasilkan komposisi warna yang akhirnya akan mewarnai seluruh hari-hariku dan relasiku dengan sesama dan Tuhan. Semuanya kembali kepada diriku. Kadang memilih untuk mencampurkan lebih banyak warna putih sangat berat dan ‘makan hati’ , tetapi aku teringat kepada perumpamaan yang diberikan Yesus kepada para murid, “Demikian pula hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu”.
Bagaimanapun beratnya, keputusanku dan kesadaranku untuk mencampurkan lebih banyak warna putih setiap hari mengantarkanku kepada harta mutiara yang terindah yang tersembunyi yang hanya bisa ditemukan dalam warna abu-abu muda yang tidak terlalu banyak warna hitamnya.
San donato, 25 Februari 2009
Add comment Mayo 19, 2009
caeciliauti
Takut
Kalau dipikir-pikir dan dirasa-rasa lagi dengan jernih, ternyata manusia boleh dikata selalu hidup dalam ketakutan. Dari sekian banyak emosi natural manusia yang sifatnya netral yaitu sedih, marah, kecewa, takut (cemas), maka rasa takut yang tampaknya paling sering mendominasi perasaan manusia.
Takut mati, takut tua, takut sakit, takut bencana alam, takut kehilangan orang yang dicintai, takut nggak lulus ujian, takut kehilangan atau nggak dapat pekerjaan, takut terpeleset saat jalan di atas jalanan bersalju atau kamar mandi yang licin, takut dikhianati pacar, takut terbang, takut keracunan, takut bangkrut /usahanya gagal, takut nggak dapat pasangan hidup, takut nggak punya anak dan kesepian di hari tua, dan masih panjang lagi daftar ketakutan itu kalau dilanjutkan. Jika kita membaca surat kabar atau melihat TV, entah berapa kali kata takut itu akan kita jumpai.
Kalau rasa takut itu berusaha dijauhi, adanya hanya menipu diri. Karena rasa takut itu tetap ada dan tidak bisa diingkari. Paling hanya mengalihkan sebentar perhatian kepada rasa takut sesudah itu ia muncul lagi dan harus kita hadapi kembali. Yesus juga mengalami rasa takut yang sangat saat berdoa di Taman Getsemani. Rasa takutNya sebagai manusia karena mengetahui akan menghadapi suatu penderitaan yang besar. KeputusanNya untuk tetap maju menyongsong salib menunjukkan bahwa ada celaka-celaka dan derita-derita yang tidak untuk dihindari walaupun rasa takut itu pada mulanya adalah untuk menghindarkan manusia dari celaka / derita.
Teori mengatakan bahwa rasa takut adalah bagian dari karunia alam sebagai mekanisme pertahanan diri dan sarana survival untuk bertahan hidup. Kenyataannya rasa takut itu sendiri sering begitu melumpuhkan sampai rasanya kita tidak berani bergerak apapun dan kemanapun dan menjadi sangat pasif untuk menghindari resiko yang kita takutkan itu terjadi. Jika demikian reaksi kita, maka hilanglah fungsi rasa takut itu sebagai alat untuk survive. Sebaliknya, ia membuat kita mati sebelum waktunya, menjadi renta tiba-tiba padahal umur baru kepala tiga dan badan merasa sakit dan tak berdaya sebelum sakit sungguhan. Berarti rasa takut yang sifatnya netral dan karunia alam itu harus disikapi sedemikian supaya fungsinya sebagai alat pertahanan diri dan survival bisa terus berjalan dan justru kita mendapat manfaat dan gaya dorong untuk hidup dan berkembang dari rasa takut yang disikapi dengan sepatutnya.
Rasa takut yang sewajarnya membuat kita berhati-hati dan penuh perhitungan yang akan menyelamatkan kita dari bahaya. Jika kita tidak mempunyai rasa takut, kita akan cenderung lengah dan tidak menyadari adanya bahaya sehingga memudahkan kita mengalami celaka. Tanpa rasa takut, saya akan berjalan dengan langkah-langkah lebar dan cepat di atas jalanan yang licin sehingga saya bisa terpeleset dan jatuh. Rasa takut adalah sarana untuk menyelamatkan, yang sepatutnya menjadi sahabat kita dan tidak perlu dijauhi. Seperti halnya rasa takut akan Tuhan, hal itu bukanlah suatu sikap untuk dicemooh dan dianggap usang. Takut kepada Yang Membuat Hidup akan membuat kita tidak semena-mena jadi manusia karena sadar ada Yang Lebih Besar daripada kita
Bagaimana mengolah rasa takut sehingga ia menjadi konstruktif dan membuat kita selamat dan tetap semangat menjalani hidup?
Pada saat saya merasa takut dan merasa lumpuh karena dikuasai olehnya, saya biasanya akan datang kepada Tuhan dan berdoa. Setelah berdoa, rasa takut saya itu biasanya tidak hilang, tetap saja takut, tetapi biasanya timbul suatu cara baru untuk melihat dan menyikapinya. Saya sadar bahwa saya tidak punya kendali atas apapun juga, bahkan atas tubuh saya sendiri, sebaik-baiknya saya menjaganya. Semua hal bisa terjadi di luar harapan saya dengan sewaktu-waktu dan saya hanya akan menontonnya terjadi dengan penuh ketakutan dan kecemasan. Tetapi melalui doa dan berjumpa dengan Tuhan di dalam keheningan, sambil mengingat kembali kata-kata Yesus yang selalu bergema di hati kita, “Jangan takut, karena Aku telah mengalahkan dunia”, maka saya mengumpulkan kekuatan untuk mulai mengendalikan rasa takut yang tetap ada itu.
Yang membuat saya memutuskan untuk bangkit dari ketakutan itu, karena saya menyadari bahwa Tuhan tahu bahaya-bahaya apa yang mengintai anak-anakNya dan karena Ia tahu, maka Ia memegang kendali sepenuhnya atas semua bahaya itu. Saya akan tetap takut untuk hal-hal dan kemungkinan- kemungkinan menyeramkan yang terjadi di luar kendali saya. Tetapi Tuhan sudah berkata jangan takut dan itu berarti Ia sudah memegang kendali atas segala hal sehingga saya akan melanjutkan hidup saya dengan tenang dan menghadapi rasa takut saya sebagai teman untuk membuat saya selalu bersikap rendah hati, waspada, dan memperhitungkan segala sesuatu secara sehat. Dan seandainya terjadi juga apa yang saya takutkan, maka penderitaan Yesus dan para martir kudus mengingatkan saya bahwa ada penderitaan penderitaan yang tidak harus dihindari
San Donato, Jan 14 2009
Add comment Mayo 19, 2009
caeciliauti
Sepatu kerendahan hati
(Lukas 1 : 38)
Kata-kata yang diucapkan Bunda Maria dalam menanggapi kabar yang kudus Malaikat Gabriel untuk mengandung Putera Allah bagi keselamatan manusia, lahir dari kerendahan hati yang amat dalam dari Bunda Maria di hadapan Tuhan. Kata-kata itu sebetulnya bentuk lain dari kalimat, “Ya, Tuhan, ya, aku menurut, apapun yang Engkau ingin aku lakukan dan lalui, jadilah itu, Engkau tahu apa yang Engkau lakukan, Engkau yang selalu mencintai manusia dan menginginkan kebaikan yang sepenuhnya bagi manusia.”
Kerendahan hati Bunda juga membuatnya mampu mempercayai sepenuhnya kuasa penyelenggaraan Allah walaupun kadang ia sendiri tidak selalu mampu memahami jalan-jalan yang harus ia lalui untuk menggenapi rencana agung Allah menyelamatkan dunia dari kegelapan dosa dan kematian. Kerendahan hati itulah yang membuat Bunda memutuskan untuk pasrah dan taat sepenuhnya untuk bekerja sama dengan Allah mengemban tugas yang amat mulia sekaligus sama sekali tidak ringan dan menuntut banyak pengorbanan itu
Betapa banyaknya yang dapat aku pelajari dari sebuah sikap kerendahan hati. Betapa sikap itu membuatku menghayati keindahan hidup ini walaupun ada banyak suka duka, tantangan dan penderitaan, kebimbangan dan kekecewaan di dalamnya. Kerendahan hati membuat aku meletakkan diriku pada perspektif yang berbeda dari sekedar selalu ‘berpusat pada diriku’.
Melulu memikirkan kepentingan, kemuliaan, kehormatan, kesenangan, dan kebutuhan diriku sendiri membuatku seperti berjalan dengan sepatu yang alasnya halus / rata di atas salju bercampur es yang licin. Aku jadi hanya berkonsentrasi pada cara bagaimana supaya aku tidak terpeleset. Aku jadi tidak mampu memandang ke arah lain, dan memikirkan apa yang menjadi kesedihan atau kebutuhan orang lain di sekitarku, karena mataku terpusat ke kakiku, langkahku, keseimbanganku, agar aku tidak terjatuh. Aku menjadi terlalu sibuk memikirkan kepentinganku, kekecewaan-kekecewaanku, kesedihan diriku sendiri, kegagalan dan penyesalan-penyesalan, dan kekhawatiranku akan masa depan.
Sikap kerendahan hati seperti memilih sebuah sepatu khusus dengan gerigi di alasnya sehingga langkahku di atas lapisan es menjadi stabil, mencengkeram, dan mencegahku terjatuh karena terpeleset. Baru saat itulah aku dapat melihat keindahan jalan-jalan yang kulalui, menikmati pemandangan, dan menyapa orang-orang yang kujumpai serta menawarkan bantuanku bagi orangtua yang sedang menyeberang jalan, karena aku tidak perlu lagi melulu mengarahkan pandangan dan keseimbanganku pada kakiku sendiri. Sepatu bergerigi itu akan melakukan tugasnya mencegahku terpeleset. Aku tidak perlu memikirkan kakiku sendiri lagi. Karena sejak semula aku ditakdirkan untuk menikmati perjalanan, mengemban misiku untuk berkonsentrasi pada pelajaran-pelajaran dan keindahan yang kujumpai sepanjang jalan kehidupan.
Memakai sepatu kerendahan hati, mengakui bahwa aku hanyalah sebentuk manusia ciptaan karena kemurahan dan belaskasihan Tuhan dan sesama, membebaskanku dari sikap malas, sombong, acuh tak acuh, dan kekecewaan terhadap hal-hal yang tak mampu kuubah serta harapan-harapan yang tak terpenuhi dalam hidup ini.
Kerendahan hati memampukanku melepaskan fokus hidup pada diri sendiri dan mulai menikmati kehidupan ini apa adanya dan mensyukuri setiap kesempatan dan anugerah di dalamnya yang tak ada habis-habisnya. Kerendahan hati mencegahku mengurangi arti keindahan hidup yang sesungguhnya dan mencegahku terpeleset jatuh kepada kesombongan dan sikap apatis.
Seperti juga Bunda Maria yang melupakan mimpi-mimpi pribadinya dan menyerahkan semua keinginannya kepada kehendak Tuhan yang Maha Kasih demi kehidupan, demikian pula aku rindu untuk mulai menikmati kehidupan yang sesungguhnya yang sudah terpolusi oleh belenggu kesombongan dalam hidup yang penuh dengan kompetisi ini, luka-luka di hati, kekhawatiran akan masa depan, penyesalan atas kegagalan, dengan selalu memakai sepatu bergerigi pada kakiku, mempercayakan kestabilan langkahku padanya supaya aku tetap stabil dan bisa memfokuskan diri pada orang lain dan keindahan hidup ini.
Seperti Bunda Maria, aku ingin mempercayakan dan memasrahkan diriku sepenuhnya kepada Tuhan, yang telah membentukku sejak semula, percaya kemana Ia sedang membawaku dan bagaimana Ia sedang membentukku. Aku rindu untuk percaya sepenuhnya, dengan segenap kerendahan hati, bahwa Ia yang memberi hidup, tahu bagaimana menghandle dan membawaku tiba pada tujuan-tujuannya yang sebenarnya.
San Donato, five days before Christmas 2009
Add comment Mayo 19, 2009
caeciliauti
Kisah meja doaku
Di mana aku meletakkan Tuhan dalam hidup ini ? Di mana aku meletakkan diriku dan pikiran-pikiranku dalam menghadapi peristiwa-peristiwa kehidupan sehari-hari ? Di sudut pikiran positif ? atau di kamar besar tempat pikiran negatif bersemayam ? Kamar itu besar sekali tetapi di dalamnya dingin dan gelap. Di kamar itu rasa curiga, iri hati, acuh tak acuh, dan sinisme menjadi hiasan dindingnya. Perabotannya adalah kejenuhan, kemalasan, rasa cepat menyerah, dan putus asa. Dindingnya didominasi warna ketakutan.
Ya..sayang sekali, jika aku memilih untuk sering berada di ruangan itu…berarti aku telah melewatkan saat-saat penuh kedamaian di mana meja doaku berada, yaitu di ruangan dimana Tuhan juga duduk di sana, dan menungguku untuk menikmati peristiwa kehidupan ini dengan hati yang gembira dan penuh syukur, hati yang selalu siap untuk memberi dan mengasihi, hati yang siap melupakan diri sendiri supaya orang lain bahagia. Itulah sebabnya kamar di mana meja doaku berada tidak memerlukan cahaya apapun sebagai penghangat dan penerangan, berada di sana bersamaNya membuat ruangan itu selalu cerah, hangat, dan bercahaya dengan sendirinya.
Hanya saja…kamar dimana meja doaku itu berada, tidak selalu mudah untuk dimasuki. Sebetulnya pintunya selalu terbuka lebar, tetapi anehnya aku tidak dapat masuk sebelum aku memakai pakaian ketaatan dan kerendahan hati. Dan pakaian itu hanya bisa kupakai jika aku melepaskan dulu egoku, kesombonganku, kesibukanku.
San Donato, malam minggu yang dingin di penghujung November
Add comment Mayo 19, 2009
caeciliauti
Kasih tak pernah gagal
“If you love until it hurts, there will be no more hurts, only more love”
(Mother Teresa)
Mengapa kasih dikatakan “tidak pernah gagal”, dan “tidak akan berkesudahan ?” (1 Kor 13:8). Bukankah sudah banyak bukti bahwa mengasihi itu seringkali menyakitkan, dan sering juga menghancurkan ego seorang manusia normal. Apalagi jika yang dikasihi tidak balas mengasihi, atau bahkan malah balas menyakiti. Dalam hal ini apakah berarti kasih itu telah gagal? Kasih juga tak segan-segan menuntut pengorbanan yang tidak sedikit, bukan hanya waktu, tenaga, pikiran, dan uang, bahkan sampai menuntut seluruh kehidupan, kebebasan, dan bahkan nyawa. Apakah rahasia di balik kasih, yang membuat kasih tak pernah gagal dan tak berkesudahan, melampaui norma-norma manusiawi kita ?
Kasih yang berpamrih, kasih yang timbul karena ada maunya, kasih karena sudah dikasihi duluan, mungkin tidak akan bertahan lama, karena pengharapan yang membebani perbuatan kasih itu. Dan pengharapan kepada yang fana seringkali sia-sia. Tetapi kasih yang bersumber dari Yang Maha Pengasih itu dilakukan semata-mata demi kasih itu sendiri, supaya ia bersinar di tengah kegelapan, bertegar di dalam kegalauan. Ia juga tidak mempersyaratkan apapun terhadap penerima kasih. Karena kasih yang sejati itu membebaskan. Free dan unconditional. Kebahagiaan dari pelakunya adalah hanya bila ia bisa terus mengasihi tanpa mengharapkan apapun, tanpa membutuhkan apapun, tidak perlu balasan apapun, hanya butuh untuk lebih lagi mau mengerti, lebih lagi mau memberi, lebih lagi mau berkorban, supaya yang lain bahagia. Bahagianya hanya pada lebih lagi mengasihi…dan terus mengasihi…tanpa berkesudahan.
Add comment Mayo 19, 2009
caeciliauti
Belajar dari kesederhanaan Bunda Maria
Add comment Mayo 19, 2009
caeciliauti
Sebentuk perantauan bernama Hidup
Selama 37 tahun hidup di dunia, saya beberapa kali mengalami perubahan suasana baru yang cukup signifikan dalam perjalanan hidup. Yang pertama tentu saja saat saya berpindah dari rahim Ibu saya yang hangat, gelap, sunyi dan nyaman menuju ke sebuah tempat maha luas yang bising dan menyilaukan yang bernama dunia. Kemudian di usia 18 tahun, saya berpindah dari kota kelahiran saya di Malang menuju kota Bandung untuk melanjutkan kuliah, di mana saya berpindah kos sebanyak tiga kali sebelum akhirnya lulus dan menempati rumah idaman di kota Serpong bersama pemuda yang saya kenal di tempat kos yang kemudian menjadi suami saya. Enam tahun di Serpong, ternyata suami saya mendapat tawaran kerja yang lebih baik di negeri jiran, Malaysia. Jadilah saya kembali berpindah ke kota Kuala Lumpur yang semakin memisahkan saya dari tanah kelahiran dan kedua orangtua saya yang sangat saya cintai.
Tak lama lagi, saya juga kembali harus berpindah menuju belahan dunia lain yang bahkan lebih jauh dan asing bagi saya. Milan, Italia. Wow, tak terbayangkan asingnya, walau pasti juga sangat menarik. Setiap kali saya harus berpindah domisili, perasaan yang selalu timbul dalam hati saya adalah sebersit kesedihan karena harus meninggalkan kehidupan dimana saya telah begitu terbiasa dan nyaman menjalaninya, sembari menikmati semua bentuk relasi dan persahabatan dengan sesama yang saya jumpai dalam setting lingkungan dan karakternya masing-masing di tempat saya berada. Sekalipun tujuan baru selalu mengandung tantangan dan perkembangan hidup yang lebih baik, saya selalu merasa gamang dan khawatir membayangkan bahwa dunia baru yang akan saya jalani tidak seperti yang saya harapkan dan perkirakan. Tetapi bersamaan dengan perasaan sedih karena menghadapi perpisahan dengan teman-teman yang baik dan kehidupan yang menyenangkan, sebuah kesadaran muncul dan membawa saya kepada suatu perasaan syukur yang dalam. Kesadaran itu dibawa oleh sebuah pertanyaan terhadap perasaan berat saya kepada perubahan yang saya alami, “Mengapa setiap kali hendak meninggalkan suatu tempat dan bentuk kehidupan menuju kepada yang baru, saya selalu merasa sedih ? Bukankah itu berarti setiap kehidupan baru yang awalnya saya takutkan itu akhirnya selalu membuat saya bahagia dan merasa berat untuk meninggalkannya ? Bukankah itu berarti di tempat yang baru selalu akan ada sebentuk kehidupan lain yg juga penuh dengan dinamika yang manis dan persahabatan baru yang penuh berkat ?
Saya juga menyadari bahwa kehidupan sehari-hari ini pun selalu sarat dengan perpindahan, baik yang sederhana dan sementara maupun yang lebih permanen. Pindah dari keadaan damai ke perasaan gusar, pindah dari rasa bersahabat kepada rasa segan, pindah dari semangat yang menggebu kepada hari yang lesu, atau pindah dari keadaan sehat ke keadaan sakit, dst dan sebaliknya. Perubahan yang selalu terjadi sebagai bagian dari dinamika kehidupan itu rasanya tak terhindarkan dan pasti dialami oleh setiap insan. Ternyata hidup adalah benar-benar sebentuk perantauan.
Saat misa Kamis Putih di katedral St John usai, tim paduan suara gereja menyanyikan lagu penutup berjudul “In Remembrance”. Ketika Tuhan Yesus membasuh kaki para murid di malam terakhirNya di dunia dan memberikan teladan untuk saling melayani dengan rendah hati, lalu memecahkan roti lambang tubuhNya yang dikurbankan demi pembebasan kita dari dosa, Tuhan mengatakan supaya kita melakukan semua itu kembali sebagai peringatan akan Dia. Sebuah kenang-kenangan yang tak ternilai harganya dari Tuhan semesta alam kepada umat manusia ciptaanNya. Sebuah bukti hidup betapa kasihNya yang tanpa pamrih kepada manusia yang fana dan lemah itu tak terbayangkan besarnya. Sebuah bekal yang juga akan selalu menyertai setiap tahap perubahan dalam dinamika kehidupan kita, tak peduli betapapun berat dan menantangnya, menuju bentuk kehidupan baru yang penuh harapan dan aneka kemungkinan yang manis dan tak terlupakan. Termasuk ketika perpindahan kita yang terakhir tiba yaitu dari kehidupan yang fana kepada perhentian akhir yang kekal bersama Bapa di surga, di mana. Dia telah menantikan kita. Kisah-kisah menyenangkan dari perjalanan hidup yang telah lalu tak akan terulang kembali, hanya kenangan manis yang akan selalu tinggal di hati saya. Namun kenangan terindah dari Tuhan kita Yesus Kristus setiap kali saya menyambut tubuhNya, merenungkan teladan dan wafatNya dan menyambut kebangkitanNya dari alam maut yang kita rayakan pada hari ini, akan senantiasa bersama saya dan kita semua tanpa mengenal batas waktu, tempat, dan keadaan …….melampaui maut dan kehidupan.
Kuala Lumpur, Maret 2008
Add comment Mayo 19, 2009
caeciliauti
Pohon Natal plastik kami
Libur natal dan tahun baruku baru saja usai. Walau sudah tiga minggu namun rasanya baru dua hari. Cepat benar berlalu liburan yang meriah ini, pikirku setengah menyesal. Dengan tatapan kosong aku memandangi tumpukan cabang-cabang pohon natal plastikku yang sudah seluruhnya kulepaskan dari pokoknya untuk siap dikembalikan ke dalam kemasan kardusnya, sampai setahun lagi mereka dikeluarkan pada natal tahun depan. Aneka lampion dan boneka gantung penghias pohon sudah selesai kurapikan dalam kotak kardus lain yang menjadi wadah penyimpanan mereka.
Pohon natal plastik ini hampir setua diriku usianya. Ayahku membelinya ketika aku masih kecil sekali. Walau kadang terkena kencing tikus selama hari-harinya di gudang penyimpanan rumah ayahku, ia tetap akan tampil dengan manis di rumah keluarga kami setiap pertengahan bulan Desember hingga pertengahan Januari di tahun yang baru. Pembantu ayahku yang juga merayakan natal akan mencucinya dengan sabar sebelum memasangnya menjelang natal. Kadang-kadang karena ia belum kembali dari rumah keluarganya untuk juga berlibur tahun baru, maka tugas membongkar pohon natal menjadi bagianku. Kami belum pernah mempunyai pohon cemara asli sebagai pohon natal keluarga. Dulu ayah mertuaku yang suka mencarinya dan memasangnya di rumah keluarga suamiku. Ayah mertuaku lebih mudah mendapatkan cemara asli karena ia tinggal di kawasan pegunungan di luar kota .
Sambil mulai menaruh cabang-cabang pohon itu ke dalam kotaknya, aku membayangkan seandainya pohonku adalah pohon asli tentu aku tak perlu melakukan ritual yang membosankan ini dan hanya tinggal menancapkan pohon cemara asli itu di tanah kosong di belakang rumah ayah ibuku. Tetapi karena pohon plastik ini selalu ada di ruang tamu keluarga kami selama lebih dari tiga puluh tahun, pasti ia telah banyak menyaksikan aneka peristiwa yang terjadi di keluarga kami baik suka maupun duka, yang aneh maupun yang biasa-biasa, serta segala perubahan yang terjadi dari natal ke natal. Seandainya pohon natal plastik ini punya misi menilai perubahan, perubahan macam apa yang dinantikannya ?
Aku teringat homili Romo Paul Klein, SVD, pada misa pagi Natal yang lalu, “Tak peduli berapa puluh kali Yesus lahir, bila Dia tidak lahir di dalam hatimu, sia-sialah itu semua”. Apakah puluhan hari natal yg kulalui telah membuatku puluhan kali lebih dekat dan percaya kepada kasihNya ? atau puluhan kali juga lebih mengasihi sesamaku dan lebih mencoba memahami dan mengampuni mereka ? Tuhan Yesus telah meninggalkan segala-galanya supaya Dia bisa bersama-sama denganku dalam dunia ini untuk mengarungi suka duka di dalamnya. Apa yang sudah aku upayakan agar kedatanganNya, dan kelak perjalanan sengsaraNya ke Golgota ini setidaknya mengubahku selangkah lebih dekat kepada keutamaan-keutamaan yang diteladankanNya?
Pohon natal plastik ini mungkin satu-satunya komponen natal yang tak berubah selama perayaan natal berlangsung di rumah orangtuaku selama lebih dari 30 tahun ini. Kami semua yang mengelilinginya sambil berdoa dan membuka kado bersama di bawahnya, pasti telah berubah, setidaknya berubah dalam hal bertambah tua. Tapi apakah perubahan dalam hal menjadi lebih toleran atau lebih tekun berdoa atau lebih suka mengalah juga terjadi ? Atau kurang lebih tetap sama seperti pohon natal plastik ini ? Dengan kebiasaan-kebiasaan jelek tetapi nikmat yang enggan untuk diubah dan diperbaiki ? Pohon natal ini tidak tumbuh, juga tidak berkembang, karena hanya terbuat dari plastik saja. Memang juga tidak rusak karena disimpan dengan baik, tetapi ya begitu-begitu saja penampilannya. Paling penampilan luarnya saja yang mengalami variasi, yaitu dari lampion-lampion hiasan yang bergantungan padanya, yang kadang-kadang berubah, tergantung mode lampion dan hiasan yang sedang in di pasaran. Apakah natal yang kulalui setiap tahun membuatku berubah menjadi sedikit lebih baik lagi daripada diriku sebelumnya ? Ataukah natal tahun ini hanyalah rutin saja seperti natal-natal sebelumnya, seperti pohon plastik ini, yang hanya keluar masuk gudang melakukan rutinitas tugas yang dari dulu tetap menjadikannya sebongkah plastik berbentuk cemara?
Akhirnya pekerjaanku mengepak kembali cabang-cabang pohon natal plastik ini ke dalam kardusnya selesailah sudah. Aku mengikat kardus panjang itu dengan tali dan mengangkatnya kembali menuju ke gudang penyimpanannya. Sampai tahun depan, pikirku sambil menaruh kardus pohon natal itu di tempatnya. Semoga tahun depan saat kamu dikeluarkan kembali, akan kau lihat pertumbuhan lebih banyak lagi kasih, iman dan harapan dariku dan dari orang-orang yang mengelilingimu.
Kuala Lumpur, Jan 18 2008
Add comment Mayo 19, 2009
caeciliauti
Palungan
“Wah, sederhana banget palungannya”, bisikku kepada suamiku yang baru saja menyusulku duduk di sampingku. Ini adalah hari Minggu Adven pertama. Kami duduk di deretan bangku bagian tengah Madonna Heights Chapel untuk merayakan misa. Mata kami terarah pada sebentuk benda asing di bagian sisi kiri altar. Kehadirannya segera menarik perhatian kami, karena bagian itu biasanya kosong. Benda itu terdiri dari empat bilah papan yang dibentuk menjadi ruang persegi panjang dengan jerami kering diletakkan di atasnya. Ada ornamen bermotif batu bata di bagian atapnya. Selebihnya, belum ada apa-apa di dalamnya. Rupanya para suster Good Shepherd mulai mencicil membuat palungan di altar kapel ini untuk perayaan dan Misa Natal nanti. Melihat bentuknya sekarang, aku sudah bisa membayangkan betapa bersahajanya palungan itu kalau sudah jadi nanti. Suamiku menyahut dengan heran, “Lho, kok hare gene sudah buat palungan ya ?”
Aku hampir tidak mendengar kata-katanya, kesederhanaan bakal palungan itu membuatku tercenung. Sangat kontras dengan suasana di pusat perbelanjaan yang kudatangi kemarin. Koridor utamanya penuh dengan ornamen aneka bentuk dan warna khas Natal seperti pohon cemara dengan ukuran raksasa, kembang gula berbentuk tongkat, snowman, sinterklas, pita merah dan hijau, lampion dan lonceng berwarna emas dan perak, boneka-boneka malaikat dan rusa kutub. Semua itu masih ditambah dengan hiasan lampu-lampu yang gemerlapan dan suara lagu-lagu Natal yang mengalun riang, membuat suasana terasa ceria. Sebuah pemandangan yang mewah dan semarak. Namun tanpa dapat kuhindari, ada rasa sepi menyeruak di hati di tengah semua kesemarakan itu. Kini, memandangi altar kapel dengan palungan setengah jadi yang sangat sederhana itu, entah darimana datangnya, hatiku justru terasa hangat. “Ada begitu banyak tempat yang lebih pantas di bumi ini, penuh dengan kesemarakan dan keindahan, dan semuanya itu milikMu juga, tetapi Engkau malah memilih untuk hadir di tempat seperti itu” bisikku dalam hati.
Memilih ? Benarkah Tuhanku dilahirkan di tempat yang sederhana, bahkan kotor dan berbau itu, atas pilhanNya sendiri ? Bukankah sebelum Ia dilahirkan, orangtuaNya masih berusaha untuk menemukan tempat yang lebih pantas ?
Pikiranku mengembara kepada para pemilik penginapan di Betlehem, yang mendapati pintu rumahnya diketuk di malam buta oleh seorang laki-laki, yang istrinya tampak hendak segera melahirkan. Apa yang akan kukatakan dan kulakukan seandainya aku berdiri di pintu itu pada saat itu ? Semua kamar di rumahku sudah penuh. Tubuhku sudah lelah setelah seharian bekerja, dan kelopak mataku begitu berat oleh rasa kantuk. Aku ingin segera kembali bergelung di kasur yang empuk tuk melanjutkan tidurku yang lelap. Sebetulnya hatiku trenyuh melihat sepasang suami isteri di hadapanku ini, yang tampaknya jauh lebih lelah dari pada aku. Mereka juga tampak sangat bersahaja, dan sang isteri nampaknya akan segera melahirkan setiap saat. Aku mengeluh, menyesali mengapa sering hal-hal yang tidak diharapkan justru harus terjadi pada saat yang sangat tidak tepat. Aku tercekat. Seandainya sang pemilik penginapan tahu siapa suami istri yang sedang mengetuk pintunya malam-malam itu. Seandainya ia tahu siapa bayi yang ada di dalam kandungan sang isteri itu.
Aku mengingat kembali saat-saat dimana aku menolak untuk membantu temanku yang membutuhkan pinjaman uang pada saat aku baru saja memasukkan uang penghasilanku ke tabungan di bank. Aku menolak karena aku tidak percaya bahwa ia akan mengembalikan pada waktunya. Aku bahkan tidak pernah bertanya padanya apakah ada sesuatu yang masih bisa aku bantu dengan apa yang ada padaku. Kututup pintu hatiku dan kuputuskan untuk mengatakan tidak. Atau saat aku menolak untuk mendengarkan keponakanku bercerita pengalamannya menjual kue kepada teman-temannya dengan alasan aku sudah lelah, padahal sebetulnya karena aku merasa jenuh sekali mendengarkan ceritanya yang itu-itu saja. Atau saat aku sedang beradu argumen dengan suamiku dan aku selalu ingin tampil sebagai pemenangnya, padahal aku tahu bahwa kadang-kadang aku memang salah. Tak terhitung berapa kali aku menutup pintu hatiku pada saat Tuhan ingin masuk dan berdiam di dalamnya. Seandainya aku tahu siapa yang aku hadapi pada saat-saat itu. Seandainya aku mau sedikit saja menyingkirkan kepentingan diriku sendiri dan kesombonganku. Seandainya pemilik penginapan tahu siapa bayi yang ada di dalam kandungan sang istri, pasti ia akan mencoba sekuat tenaga untuk menyediakan tempat istirahat, kamarnya sendiri jika perlu. Karena ia toh mungkin masih dapat mengetuk pintu tetangganya untuk meminjam kasur dan tidur di ruang tamu. Atau apa saja tapi pasti ada yang bisa dilakukannya. Tapi pintu itu telah terlanjur ditutupnya. Dan Tuhan telah terlanjur menemukan kandang hewan di belakang penginapan, dimana Ia hadir untuk bisa bersama-sama dengan manusia dan merasakan penderitaan-penderitaan manusia.
Seandainya aku berdiri di pintu itu, aku akan lari mendapatkan Bapa Yosef dan Bunda Maria yang bergerak perlahan menuju kandang. Aku akan berteriak menyatakan penyesalanku atas semua penolakanku dan merelakan tidur malamku yang nikmat, kasurku yang empuk, supaya mereka dapat menempatinya dan Tuhan Raja Semesta Alam dapat hadir dan memulai hidupNya sebagai manusia di rumahku. Tetapi semuanya sudah terjadi. Ketika keesokan harinya aku mencoba menjumpai keluarga kecil yang sederhana itu di kandang belakang penginapanku, mereka telah pergi. Rasa penyesalan yang hebat memenuhi hatiku.
Namun tiba-tiba ada suara di hatiku, “Aku memang harus lahir di sini, di kandang ini. Kandang ini akan mengingatkan kamu selalu, bahwa hatimu memang tidak sempurna, kadang ada bau yang tidak sedap dan kotoran di dalamnya. Tapi aku mau hadir di situ, supaya kamu tahu bahwa Aku akan selalu menunggumu di sana untuk membuatnya terang dan menyenangkan, sama seperti kandang yang kotor ini tadi malam begitu terang oleh kemilau cahaya surga dan riuh rendah oleh suara terompet surga dan nyanyian para malaikat. Sayang engkau tidak melihatnya. Tapi tidak apa, engkau masih dapat mengalaminya setiap saat. Yang perlu kau lakukan hanyalah bukalah pintu hatimu setiap saat, lebar-lebar. Aku telah mengetuknya dengan rindu setiap hari. Jangan tutup pintu itu. Bila kamu membiarkan Aku masuk dan menempati rumah hatimu, cahaya yang kau lewatkan tadi malam akan dapat kau nikmati lagi, setiap saat, dan Aku rindu untuk terus menyinarkannya bagimu, sebab Aku mengasihimu.”
Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku saat suamiku menyenggol lenganku untuk ikut berdiri. Rupanya Misa sudah dimulai. Aku mengusap mataku yang tiba-tiba basah dan berdiri menyanyikan lagu pembukaan. Aku berbisik dalam hatiku, “Yesusku yang solider, Yesusku yang penuh pengertian, aku tidak akan menutup pintu hatiku lagi. Aku membukanya lebar-lebar sekarang, masuklah Tuhan, aku pun teramat merindukanMu”
Kuala Lumpur, December 4, 2006
Add comment Mayo 19, 2009
caeciliauti
| Previous Posts |