Palungan
Mayo 19, 2009
caeciliauti
“Wah, sederhana banget palungannya”, bisikku kepada suamiku yang baru saja menyusulku duduk di sampingku. Ini adalah hari Minggu Adven pertama. Kami duduk di deretan bangku bagian tengah Madonna Heights Chapel untuk merayakan misa. Mata kami terarah pada sebentuk benda asing di bagian sisi kiri altar. Kehadirannya segera menarik perhatian kami, karena bagian itu biasanya kosong. Benda itu terdiri dari empat bilah papan yang dibentuk menjadi ruang persegi panjang dengan jerami kering diletakkan di atasnya. Ada ornamen bermotif batu bata di bagian atapnya. Selebihnya, belum ada apa-apa di dalamnya. Rupanya para suster Good Shepherd mulai mencicil membuat palungan di altar kapel ini untuk perayaan dan Misa Natal nanti. Melihat bentuknya sekarang, aku sudah bisa membayangkan betapa bersahajanya palungan itu kalau sudah jadi nanti. Suamiku menyahut dengan heran, “Lho, kok hare gene sudah buat palungan ya ?”
Aku hampir tidak mendengar kata-katanya, kesederhanaan bakal palungan itu membuatku tercenung. Sangat kontras dengan suasana di pusat perbelanjaan yang kudatangi kemarin. Koridor utamanya penuh dengan ornamen aneka bentuk dan warna khas Natal seperti pohon cemara dengan ukuran raksasa, kembang gula berbentuk tongkat, snowman, sinterklas, pita merah dan hijau, lampion dan lonceng berwarna emas dan perak, boneka-boneka malaikat dan rusa kutub. Semua itu masih ditambah dengan hiasan lampu-lampu yang gemerlapan dan suara lagu-lagu Natal yang mengalun riang, membuat suasana terasa ceria. Sebuah pemandangan yang mewah dan semarak. Namun tanpa dapat kuhindari, ada rasa sepi menyeruak di hati di tengah semua kesemarakan itu. Kini, memandangi altar kapel dengan palungan setengah jadi yang sangat sederhana itu, entah darimana datangnya, hatiku justru terasa hangat. “Ada begitu banyak tempat yang lebih pantas di bumi ini, penuh dengan kesemarakan dan keindahan, dan semuanya itu milikMu juga, tetapi Engkau malah memilih untuk hadir di tempat seperti itu” bisikku dalam hati.
Memilih ? Benarkah Tuhanku dilahirkan di tempat yang sederhana, bahkan kotor dan berbau itu, atas pilhanNya sendiri ? Bukankah sebelum Ia dilahirkan, orangtuaNya masih berusaha untuk menemukan tempat yang lebih pantas ?
Pikiranku mengembara kepada para pemilik penginapan di Betlehem, yang mendapati pintu rumahnya diketuk di malam buta oleh seorang laki-laki, yang istrinya tampak hendak segera melahirkan. Apa yang akan kukatakan dan kulakukan seandainya aku berdiri di pintu itu pada saat itu ? Semua kamar di rumahku sudah penuh. Tubuhku sudah lelah setelah seharian bekerja, dan kelopak mataku begitu berat oleh rasa kantuk. Aku ingin segera kembali bergelung di kasur yang empuk tuk melanjutkan tidurku yang lelap. Sebetulnya hatiku trenyuh melihat sepasang suami isteri di hadapanku ini, yang tampaknya jauh lebih lelah dari pada aku. Mereka juga tampak sangat bersahaja, dan sang isteri nampaknya akan segera melahirkan setiap saat. Aku mengeluh, menyesali mengapa sering hal-hal yang tidak diharapkan justru harus terjadi pada saat yang sangat tidak tepat. Aku tercekat. Seandainya sang pemilik penginapan tahu siapa suami istri yang sedang mengetuk pintunya malam-malam itu. Seandainya ia tahu siapa bayi yang ada di dalam kandungan sang isteri itu.
Aku mengingat kembali saat-saat dimana aku menolak untuk membantu temanku yang membutuhkan pinjaman uang pada saat aku baru saja memasukkan uang penghasilanku ke tabungan di bank. Aku menolak karena aku tidak percaya bahwa ia akan mengembalikan pada waktunya. Aku bahkan tidak pernah bertanya padanya apakah ada sesuatu yang masih bisa aku bantu dengan apa yang ada padaku. Kututup pintu hatiku dan kuputuskan untuk mengatakan tidak. Atau saat aku menolak untuk mendengarkan keponakanku bercerita pengalamannya menjual kue kepada teman-temannya dengan alasan aku sudah lelah, padahal sebetulnya karena aku merasa jenuh sekali mendengarkan ceritanya yang itu-itu saja. Atau saat aku sedang beradu argumen dengan suamiku dan aku selalu ingin tampil sebagai pemenangnya, padahal aku tahu bahwa kadang-kadang aku memang salah. Tak terhitung berapa kali aku menutup pintu hatiku pada saat Tuhan ingin masuk dan berdiam di dalamnya. Seandainya aku tahu siapa yang aku hadapi pada saat-saat itu. Seandainya aku mau sedikit saja menyingkirkan kepentingan diriku sendiri dan kesombonganku. Seandainya pemilik penginapan tahu siapa bayi yang ada di dalam kandungan sang istri, pasti ia akan mencoba sekuat tenaga untuk menyediakan tempat istirahat, kamarnya sendiri jika perlu. Karena ia toh mungkin masih dapat mengetuk pintu tetangganya untuk meminjam kasur dan tidur di ruang tamu. Atau apa saja tapi pasti ada yang bisa dilakukannya. Tapi pintu itu telah terlanjur ditutupnya. Dan Tuhan telah terlanjur menemukan kandang hewan di belakang penginapan, dimana Ia hadir untuk bisa bersama-sama dengan manusia dan merasakan penderitaan-penderitaan manusia.
Seandainya aku berdiri di pintu itu, aku akan lari mendapatkan Bapa Yosef dan Bunda Maria yang bergerak perlahan menuju kandang. Aku akan berteriak menyatakan penyesalanku atas semua penolakanku dan merelakan tidur malamku yang nikmat, kasurku yang empuk, supaya mereka dapat menempatinya dan Tuhan Raja Semesta Alam dapat hadir dan memulai hidupNya sebagai manusia di rumahku. Tetapi semuanya sudah terjadi. Ketika keesokan harinya aku mencoba menjumpai keluarga kecil yang sederhana itu di kandang belakang penginapanku, mereka telah pergi. Rasa penyesalan yang hebat memenuhi hatiku.
Namun tiba-tiba ada suara di hatiku, “Aku memang harus lahir di sini, di kandang ini. Kandang ini akan mengingatkan kamu selalu, bahwa hatimu memang tidak sempurna, kadang ada bau yang tidak sedap dan kotoran di dalamnya. Tapi aku mau hadir di situ, supaya kamu tahu bahwa Aku akan selalu menunggumu di sana untuk membuatnya terang dan menyenangkan, sama seperti kandang yang kotor ini tadi malam begitu terang oleh kemilau cahaya surga dan riuh rendah oleh suara terompet surga dan nyanyian para malaikat. Sayang engkau tidak melihatnya. Tapi tidak apa, engkau masih dapat mengalaminya setiap saat. Yang perlu kau lakukan hanyalah bukalah pintu hatimu setiap saat, lebar-lebar. Aku telah mengetuknya dengan rindu setiap hari. Jangan tutup pintu itu. Bila kamu membiarkan Aku masuk dan menempati rumah hatimu, cahaya yang kau lewatkan tadi malam akan dapat kau nikmati lagi, setiap saat, dan Aku rindu untuk terus menyinarkannya bagimu, sebab Aku mengasihimu.”
Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku saat suamiku menyenggol lenganku untuk ikut berdiri. Rupanya Misa sudah dimulai. Aku mengusap mataku yang tiba-tiba basah dan berdiri menyanyikan lagu pembukaan. Aku berbisik dalam hatiku, “Yesusku yang solider, Yesusku yang penuh pengertian, aku tidak akan menutup pintu hatiku lagi. Aku membukanya lebar-lebar sekarang, masuklah Tuhan, aku pun teramat merindukanMu”
Kuala Lumpur, December 4, 2006
Entry Filed under: Kuala Lumpur
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to comments via RSS Feed